PEMANFAATAN DAUN BINAHONG UNTUK MEMPERCEPAT PENYEMBUHAN LUKA DAN MENGURANGI PERADANGAN DI DESA MONDROWE

Main Article Content

Yohanna Theresia Venty Fau Rita Sang Putriwati Laia Fakmawati Zamili Asnidar Harefa

Abstract

Permasalahan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan daun binahong, cara meracik daun binahong, serta bagaimana tanggapan masyarakat mengenai penggunaan obat herbal dari daun binahong (Anredera cordifolia) di Desa Mondrowe. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif deskriptif. Jenis penelitian ini meliputi pendekatan studi kasus (case study). Penelitian kualitatif merupakan pengumpulan data pada suatu latar alamiah dengan tujuan menafsirkan fenomena yang terjadi, di mana peneliti berperan sebagai instrumen utama. Masyarakat telah lama memanfaatkan daun binahong berdasarkan pengalaman yang diwariskan secara turun-temurun. Cara meracik daun binahong menjadi obat herbal cukup bervariasi, seperti direbus, ditumbuk, atau digunakan secara langsung sebagai obat luar. Daun binahong dipercaya mampu mempercepat proses penyembuhan luka, mengurangi peradangan, serta membantu mengatasi berbagai masalah kesehatan lainnya. Masyarakat Desa Mondrowe masih melestarikan penggunaan daun binahong karena diyakini memiliki khasiat yang efektif dan aman. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai pemanfaatan daun binahong sebagai obat herbal untuk mempercepat penyembuhan luka dan mengurangi peradangan, dapat disimpulkan bahwa tanaman ini merupakan bagian dari kearifan lokal yang masih dijaga oleh masyarakat desa. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan edukasi kepada masyarakat serta mendorong pengembangan pemanfaatan tanaman obat lokal, khususnya daun binahong, agar tetap dilestarikan dan dimanfaatkan secara optimal untuk kesehatan.

Article Details

How to Cite
[1]
Y. T. V. Fau, R. S. P. Laia, F. Zamili, and A. Harefa, “PEMANFAATAN DAUN BINAHONG UNTUK MEMPERCEPAT PENYEMBUHAN LUKA DAN MENGURANGI PERADANGAN DI DESA MONDROWE”, JURNAL EDUCATION AND DEVELOPMENT, vol. 14, no. 2, pp. 975-981, May 2026.
Section
Artikel

References

Aisiyah, S., Putri, D. A., & Lestari, R. (2023). Aktivitas biologis senyawa saponin pada tanaman obat. Jurnal Farmasi Indonesia, 18(2), 120–130.
Broughton, G., Janis, J. E., & Attinger, C. E. (2006). Wound healing: An overview. Plastic and Reconstructive Surgery, 117(7S), 1e–32e.
Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2021). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (5th ed.). Sage Publication.
El Aziz, M. A., et al. (2021). Biological activities of saponins. Phytochemistry Reviews, 20, 1–20.
Fitrah, M., & Lutfiyah. (2017). Metodologi penelitian: Penelitian kualitatif. CV Jejak.
Frykberg, R. G., & Banks, J. (2020). Challenges in the treatment of chronic wounds. Advances in Wound Care, 9(3), 152–160.
Hidayat, T., et al. (2022). Efektivitas ekstrak daun binahong terhadap penyembuhan luka. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 14(2), 89–97.
Kopustinskiene, D. M., et al. (2020). Flavonoids as anti-inflammatory agents. Nutrients, 12(2), 457.
Lestari, D., & Nugroho, A. (2021). Pengaruh ekstrak binahong terhadap regenerasi jaringan luka. Jurnal Farmasi Klinis, 6(1), 22–30.
Medzhitov, R. (2008). Origin and physiological roles of inflammation. Nature, 454(7203), 428–435.
Merriam, S. B., & Tisdell, E. J. (2022). Qualitative research: A guide to design and implementation. Jossey-Bass.
Othman, L., et al. (2022). Alkaloids and their pharmacological roles. Molecules, 27(3), 1023.
Panche, A. N., et al. (2022). Polyphenols: Mechanisms and health benefits. Biomedicine & Pharmacotherapy, 145, 112398.
Santos, V. L. C. G., et al. (2022). Wound care management and healing process. Journal of Wound Care, 31(5), 402–410.huuh
Tusilva, N., et al. (2025). Bioactive compounds of Anredera cordifolia and its pharmacological effects. Journal of Medicinal Plants Research, 19(2), 101–110.
World Health Organization. (2023). Guidelines on rational use of medicines. WHO Press.
Yusridawati. (2025). Manajemen perawatan luka modern. Jurnal Keperawatan Indonesia, 28(1), 15–25.